Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Metode partisipatif yang ada di bacaan metode action planning (perencanaan akhir). Dalam bacaan warga Amarassi telah memenuhi batasan-batasan dalam penggunaan metode perencanaan tindak – ToP. Seperti ketersediaan waktu untuk mneyelesaikan semua tahapan warga Amarassi menetapkan waktu pengerjaan dari bulan Juni sampai September. Karena pada bulan-bulan tersebut sudah bisa dipastikan seluruh desa dan kelurahan sudah memasuki pascapanen sehingga tidak akan menganggu aktivitas mereka dalam bertani. Metode ini digunaka untuk perancangan even dan aktivitas yang spesifik yaitu untuk membuat program pembangunan jalan desa yang dilakukan secara bergotong royong oleh warga Amarassi dan dibantu oleh lembaga pemerintahan, gereja dan sekolah. Program ini dipelopori oleh salah seorang tetua marga yaitu Veky Koroh yang merupakan camat pertama di Amarassi. Semenjak zaman Veky inilah secara terus menerus dan turun temurun ada kewajiban tidak tertulis bagi camat-camat Amarassi untuk tetap mengagendakan secara tahunan gotong royong membuat jalan. Selanjutnya adalah persiapan yang sangat matang dan hati-hati untuk menjamin terwujudnya hasil yang berkualitas. Program ini juga sudah melalui persiapan yang matang hal ini dapat terlihat dari upaya Very Koroh yang menumbuhkan kembali semangat gotong royong para warga dan dibantu oleh gereja dan sekolah yang ikut mensosialisasikan program ini sehingga memperkuat semangat warga untuk bergotong royong.

Berikut ini adalah tabel dalam tahapan metoda action planning yang digunakan pada kasus masyarakat Amarassi.

Tahapan Keterangan
Konteks Tahap ini dimulai dengan permasalahan para warga yang timbul karena ketiadaan jalan desa sehingga menyulitkan mereka untuk menguburkan kerabat mereka yang meninggal dunia. Pengalaman pahit inilah yang kemudian digunakan para tetua adat untuk memotivasi warga agar mau bergotong royong membangun jalan desa.
Lingkaran Sukses Manfaat yang dirasakan dari program ini jika program ini bisa bejalan dengan sukses adalah selain dapat memudahkan para warga untuk menguburkan kerabat mereka juga dapat memperluas areal pemukiman dan membuka keterisoliran daerah Amarassi.
Komitmen Veky Koroh berhasil mengubah persepsi warga, jika dulu gotong royong dilakukan karena terpaksa maka sekarang dilakukan karena termotivasi oleh keinginan dan kebutuhan mereka, bahkan sangat jarang warga yang tidak mengikuti gotong royong pembuatan jalan desa.
Workshop Aktivitas Kunci Ketika berotong royong membangun jalan desa tersebut tak jarang mereka mengalami kesulitan seperti ditemukan bukit berbatu. Karena itu untuk membantu kesulitan tersebut pihak Dinas Pekerja Umum memberikan bantuan peralatan berat seperti buildoser. Selain itu juga disediakan tenaga dari PU untuk memberikan pengarahan teknis selama gotong royong.
Penjadwalan dan Penugasan Gotong royong dilakukan secara bertahap selama tiga bulan. Selama 4 hari dalam minggu pertama gotong royong dilakukan jika dalam 4 hari bulan pertama jalan belum selesai, di bulan berikutnya gotong royong akan diteruskan. Pembagian kerja dilakukan oleh masing-masing kelompok. Ada yang menyiapkan makanan, menjaga base camp, dan ikut kerja bakti membangun jalan tembus.
Refleksi Hasil pekerjaan tersebut telah memberikan dampak positif bagi warga-warga Amarassi seperti memudahkan akses ekonomi, akses transportasi dan dapat menghemat biaya bagi pemerintah karena pekerjaan ini dilakukan secara suka rela oleh warga sekitar.

Tipe kepemimpinan yang terdapat di bacaan adalah tipe kepemimpinan partisipatif di mana pemimpin bertindak sebagai fasilitator. Di mana Veky Koroh sebagai camat di Amarassi sangat berperan dalam program ini. Asumsi yang dimilikinya yaitu mulai membuat masterplan pemukiman penduduk, penyatuan beberapa temukung menjadi desa dan membuat jalan tembus. Cara Veky Koroh dalam mencapaui tujuan beliau adalah memotivasi warga sekitar untuk menumbuhkan semangat gotong royong. Setelah itu Veky mengumpulkan para kepala desa dan lurah di kantor kecamatan  dalam pertemuan tersebut ditentukan waktu dan tempat akan diadakan gotong royong. Sosialisasi dan informasi tentang gotong royong disampaikan melalui tetua-tetua marga. Akhirnya para warga mau bersama-sama melaksanakan gotong royong.

A. Keadaan pendidikan di Indonesia saat ini

Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan pembangunan di Indonesia. Pendidikan yang baik akan menghasilkan pembangunan negara yang baik juga. Indonesia merupakan salah satu negara yang masih mempunyai masalah dalam bidang pendidikan. Dewasa ini, pendidikan di Indonesia masih perlu perbaikan di beberapa sektor. Hal inilah yang membuat Indonesia mengalami kendala Sumber  Daya Manusia yang menyebabkan pembangunan di Indonesia menjadi terhambat.

Salah satu masalah yang ada yaitu kurangnya pemerataan pendidikan. Layanan pendidikan pada usia dini masih terbatas, sehingga kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut. Kesempatan memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Namun, saat ini pemerintah telah menyediakan fasilitas sekolah gratis untuk tingkat SD dan SMP sehingga pendidikan masyarakat Indonesia pelan-pelan mulai membaik.

Pada tahun 2005 posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Peringkat ini didapatkan dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco. Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, Indonesia memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, Indonesia diberi nilai E dan menduduki peringkat paling buncit alias ke 14. Indonesia hanya bagus pada aspek kesetaraan gender B dan kesetaraan keseluruhan yang mendapat nilai B serta mendapat peringkat 6 dan 4. Berdasarkan data yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa keadaan pendidikan di Indonesia saat ini masih terbilang rendah dibandingkan negara-negara lainnya. Tetapi, cukup mengalami beberapa kemajuan dibandingkan dengan kondisi pendidikan sebelum

B. Peranan Pendidikan bagi Pembangunan di Indonesia

Pembangunan merupakan proses yang berkesinambungan yang mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk aspek sosial, ekonomi, kultural, dan politik, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan warga bangsa secara keseluruhan. Dalam proses pembangunan tersebut peranan pendidikan sangat strategis. Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan namun demikian sampai sejauh ini belum menampakkan hasil yang terlalu memuaskan.

Pendidikan tidak hanya mempersiapkan peserta didik untuk mampu bekerja pada satu jenis bidang yang relevan. Melainkan, pendidikan harus dapat mempersiapkan peserta didik untuk mampu memasuki berbagai bidang kerja. Sekolah Menengah Umum, di samping harus mampu mempersiapkan lulusan untuk memasuki dunia pendidikan tinggi, harus pula mampu mempersiapkan lulusan untuk siap memasuki pelatihan dari dunia kerja untuk memasuki berbagai bidang.
Tantangan utama dunia pendidikan Indonesia dewasa ini dan di masa depan adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam kaitan ini menarik untuk dikaji bagaimana kualitas pendidikan kita dan upaya apa yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sehingga bisa menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas sebagaimana diharapkan, agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang produktif, efisien, dan memiliki kepercayaan diri yang kuat sehingga mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain dalam kehidupan global ini.

Orientasi pendidikan Indonesia selama ini cenderung memperlakukan peserta didik berstatus sebagai obyek atau klien, guru berfungsi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan, materi bersifat subject oriented, manajemen bersifat sentralistis. Orientasi pendidikan yang kita pergunakan tersebut menyebabkan praktek pendidikan kita mengisolir diri dari kehidupan yang riil yang ada di luar sekolah, kurang relevan antara apa yang diajarkan dengan kebutuhan dalam pekerjaan, terlalu terkonsentrasi pada pengembangan intelektual yang tidak berjalan dengan pengembangan individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan berkepribadian. Proses belajar mengajar didominasi dengan tuntutan untuk menghafalkan dan menguasai pelajaran sebanyak mungkin guna menghadapi ujian atau test, di mana pada kesempatan tersebut anak didik harus mengeluarkan apa yang telah dihafalkan.

Akibat dari praktek pendidikan semacam itu munculah berbagai kesenjangan. Kesenjangan akademik menunjukkan bahwa ilmu yang dipelajari di sekolah tidak ada kaitannya dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal ini disebabkan karena guru tidak menyadari bahwa kita dewasa ini berada pada masa transisi yang berlangsung dengan cepat, dan tetap memandang sekolah sebagai suatu insitusi yang berdiri sendiri yang bukan merupakan bagian dari masyarakatnya yang tengah berubah. Di samping itu, praktek pendidikan sering mengalami perubahan kurikulum. Ditambah lagi, banyak guru yang tidak mampu mengaitkan mata pelajaran yang diajarkan dengan fenomena sosial yang dihadapi masyarakat. Akibatnya guru terus terpaku pada pemikiran yang sempit. Terbatasnya wawasan para guru dalam memahami fenomena-fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat menyebabkan mereka kurang tepat dan kurang peka dalam mengantisipasi permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan, akibatnya mereka kehilangan gambaran peta pendidikan & kemasyarakatan secara komprehensif. Kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja, memang bukanlah sernata-mata disebabkan oleh dunia pendidikan sendiri. Melainkan, juga ada faktor yang datang dari dunia kerja. Sedangkan, kesenjangan kultural ditunjukkan oleh ketidakmampuan peserta didik memahami persoalan-persoalan yang sedang dihadapi dan akan dihadapi bangsanya di masa depan.

Peserta didik kita tidak memiliki historical-roots dan cultural root dari berbagai persoalan yang dihadapi. Hasil pendidikan tradisional semacam itu hanya akan melahirkan lulusan yang hanya pantas jadi pengikut bukannya jadi pemimpin. Jenis kerja yang mereka pilih adalah kerja yang sifatnya rutin dan formal, bukannya kerja yang memerlukan inisiatif, kreatifitas dan entrepreneurship.

Sudah barang tentu dengan kualitas dasar sumber daya manusia tersebut di atas, bangsa Indonesia sulit untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan yang muncul sebagai akibat adanya kecenderungan global. Oleh karena itu agar SDM Indonesia mampu bersaing dalam dunia global diperlukan adanya reformasi dalam pendidikan, yang salah satu di antara aspek reformasi tersebut adalah perlu dikembangkannya pendidikan yang berwawasan global tetapi tidak mengabaikan filosofis bangsa.

Tantangan utama bangsa Indonesia dewasa ini dan di masa depan adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia pendidikan memegang peran yang penting. Praktek pendidikan di Indonesia selama ini kurang mampu menghasilkan SDM yang memiliki keunggulan kompetitif di dunia persaingan global. Oleh karena itu untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser ke arah pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang bersifat interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner. Pendidikan berwawasan global menuntut kebijakan pendidikan tidak semata sebagai kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.

C. Dampak yang diberikan oleh pendidikan terhadap pembangunan di   Indonesia

Dalam rangka mewujudkan cita-cita masyarakat sejahtera, adil dan makmur, maka sejak tahun 1950-an Indonesia memulai pembangunan nasionalnya dengan tujuan untuk membangun masyarakat Indonesia seutuhnya dan seluruhnya. Pembangunan dan pendidikan merupakan dua aspek yang saling terkait bagaikan dua sisi mata uang, yang tidak dapat berdiri sendiri tapi dapat dan perlu dibedakan. Pembangunan memerlukan orang-orang/warga negara yang mampu menyelenggarakan dan melaksanakan kegiatan pembangunan tersebut. Orang-orang yang mampu melaksanakan pembangunan tersebut dapat tercipta melalui pendidikan. Pendidikan, baik dari sisi proses maupun dari sisi sarana dan prasarananya, dapat terwujud dengan baik apabila didukung oleh iklim pembangunan dan kebijakan pembangunan yang baik. Dengan demikian pendidikan yang berkualitas merupakan hasil dari proses pembangunan, dan tercapainya tujuan pembangunan merupakan wujud dari hasil kerja orang-orang yang memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan yang merupakan hasil dari suatu proses pendidikan. Tidak mengherankan apabila dalam Pembukaan UUD 1945 ditekankan mengenai keinginan kita semua untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang cerdas hanya dapat dihasilkan melalui pendidikan yang berkualitas. Tanpa manusia yang cerdas dan berkualitas, pembangunan tidak akan berjalan dengan baik.

Pembangunan hanya dapat terselenggara secara produktif, efektif dan efisien apabila didukung oleh manusia yang berkualitas dan kemampuan profesionalisme yang memadai, serta bermoral menjunjung tinggi nilai etika dan agama. Artinya, kemakmuran bangsa dan negara bukan disebabkan oleh akumulasi harta dan kekayaan melainkan dengan cara membangun lebih banyak tenaga produktif sehingga tercipta kekuatan swadaya bangsa. Indonesia memiliki SDA yang kaya namun dengan kualifikasi mutu SDM yang rendah, bandingkan dengan Jepang yang memiliki SDA yang kurang serta tantangan alam yang berat dengan mutu SDM yang tinggi. Ternyata Jepang sudah tergolong negara industri maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi di dunia. Di Indonesia, pembangunan diperuntukkan bagi seluruh masyarakat (pemerataan) dan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan manusia seutuhnya adalah pembangunan yang menekankan tidak saja aspek materil namun juga aspek spritual/moral. Apabila pembangunan manusia seutuhnya ini terwujud maka akan tercipta suatu bangsa dan negara yang kokoh, bangsa dan negara yang tidak saja mampu bersaing di percaturan dunia, bangsa dan negara yang tidak saja mampu bertahan terhadap ancaman, namun juga menjadi bangsa dan negara yang bermoral.

Jadi, pendidikan yang baik akan menghasilkan pembangunan yang baik. Sumber daya manusia dengan pendidikan yang baik, akan dapat menjadi tokoh dalam pembangunan di negara kita. Contohnya dapat dilihat pada hasil-hasil anak negeri yang berprestasi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan negara.